KEDIRI, Tandaglobal.news — Pemerintah Desa Krenceng, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, menyiapkan pelatihan promosi digital untuk membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperluas pemasaran produk lokal. Langkah ini menjadi salah satu upaya meningkatkan perekonomian masyarakat di tengah tantangan sektor pertanian yang mulai kekurangan minat generasi muda.
Pelaksana Tugas (Plt) Sekretaris Desa Krenceng, Misbahul Huda, mengatakan kondisi ekonomi desa menunjukkan perkembangan, terutama berkat keberadaan sejumlah UMKM. Namun, sektor pertanian menghadapi kendala karena semakin sedikit anak muda yang tertarik menekuninya.

“Kalau untuk kondisi sekarang sih agak peningkatan dari segi ekonomi, soalnya banyak UMKM yang ada di sini. Tapi untuk sektor pertanian agak menurun, soalnya kita kekurangan pemudanya itu, anak mudanya itu di sektor pertanian memang kurang berminat,” ujar Misbahul Huda saat diwawancarai.
Menurutnya, sebagian generasi muda lebih memilih bekerja di pabrik, merantau, atau menekuni pekerjaan lain. Kondisi tersebut membuat aktivitas pertanian masih banyak bergantung pada tenaga kerja yang lebih tua.
Di bidang pendidikan, Misbahul menilai kondisi Desa Krenceng juga mengalami perkembangan. Sebagian besar anak usia sekolah telah mengenyam pendidikan, sedangkan jumlah warga yang melanjutkan pendidikan hingga jenjang sarjana mulai meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Desa Krenceng memiliki sejumlah produk unggulan, di antaranya gedok pisang dan tas anyaman. Produk tersebut menjadi potensi ekonomi yang terus dikembangkan pemerintah desa bersama masyarakat.
Misbahul menjelaskan, pemerintah desa pernah mengadakan pelatihan menganyam tas bagi sejumlah ibu-ibu sekitar 2019 atau 2020. Para peserta juga mendapat bantuan modal untuk mengembangkan usaha.
“Jadi ibu-ibu itu kita kasih, antara tahun 2019 atau 2020 itu kita ada pelatihan penganyaman untuk tas. Nah itu beberapa ibu-ibu kita latih dan kita kasih modal,” katanya.
Dari sekitar 15 peserta pelatihan, kini sekitar lima orang disebut telah mengembangkan usaha secara mandiri. Sementara itu, peserta lainnya masih menjalankan produksi dengan membantu usaha milik orang lain.
Untuk memperkuat pemasaran, pemerintah desa merencanakan pelatihan promosi digital pada 2026. Program tersebut diharapkan membantu pelaku UMKM memperkenalkan produk melalui media digital dan menjangkau calon pembeli yang lebih luas.
Pemerintah desa juga memiliki rencana melibatkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) sebagai perantara penjualan atau reseller produk lokal.
“Jadi kita kita kemarin punya wacana bahwa BUMDes nanti bisa jadi agen untuk resellernya produk-produk yang ada di Desa Krenceng. Jadi daripada rusak milik desa, nanti buat tim yang akan jadi reseller. Jadi harapannya sih nanti bisa membantu,” ungkapnya.
Meski memiliki produk unggulan, pelaku UMKM di Desa Krenceng masih menghadapi tantangan dalam pemasaran dan pengemasan. Sebagian pelaku usaha masih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut dan belum memanfaatkan media sosial secara optimal.
“Iya, promosi itu, Mbak,” ujar Misbahul ketika ditanya mengenai kendala terbesar yang dihadapi pelaku UMKM.
Ia mencontohkan, pelaku usaha yang belum menggunakan media sosial memiliki keterbatasan dalam memperkenalkan produknya kepada calon konsumen. Sebaliknya, pelaku usaha tas anyaman yang telah memanfaatkan TikTok dinilai memiliki peluang lebih besar untuk menjangkau pasar.



















Tinggalkan Balasan