KEDIRI, Tandaglobal.news — Perhelatan Pemilihan Da’i Cilik (Pildacil) dalam rangka Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kabupaten Kediri sukses melahirkan bibit-bibit unggul penceramah muda.

Dalam lomba tersebut, Aisya Sahila Mahrus dari SDIT Bina Insani Kweden berhasil meraih Juara 1 kategori usia 6-9 tahun dengan perolehan nilai akhir 265.

Sementara itu, gelar juara pada kategori usia 10-12 tahun diraih Athaleta Eileen Setyawan, utusan MI Qur’ani Tsamrotul Ma’arif, dengan nilai tertinggi 267.

Kepala Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Kediri, Abdul Kholiq Nawawi, menyampaikan apresiasi atas penampilan para finalis.

Ia menilai seluruh peserta yang tampil di babak final merupakan generasi terbaik yang memiliki bakat untuk terus dijaga dan dikembangkan.

Namun, Abdul Kholiq juga memberikan sejumlah catatan sebagai bahan evaluasi bagi guru pembimbing dan orang tua pendamping agar kualitas dakwah generasi muda semakin matang.

“Prinsip kesederhanaan, prinsip kita mewakili budaya bangsa Indonesia ini harus dipegang. Kita tidak keluar dari ranah bumi Nusantara. Seorang mubalig diharapkan tidak sampai di tangannya ada perhiasan yang terlalu banyak, ini akan menjadi omongan di masyarakat,” pesan Abdul Kholiq saat menyoroti pentingnya menjaga adab penampilan di atas panggung.

Selain penampilan, Abdul Kholiq menggarisbawahi pentingnya akurasi materi dakwah.

Beberapa catatan yang disampaikan meliputi ketepatan penisbatan hadis, kehati-hatian dalam penggunaan kaidah bahasa Arab seperti penggunaan wa athaf pada mukadimah, hingga penulisan ayat Al-Qur’an yang harus berpegang pada kaidah Rasm Utsmani agar tidak membingungkan anak-anak.

Ia juga menyarankan agar diksi yang digunakan lebih ramah anak dan mudah dipahami masyarakat luas.

Kematangan para juara di atas panggung tidak lepas dari pembinaan intensif yang dilakukan melalui sinergi guru dan orang tua.

Ustazah Sri Anjarwati, pendamping dari MI Qur’ani Tsamrotul Ma’arif, mengungkapkan bahwa anak didiknya telah memiliki modal dari kegiatan ekstrakurikuler pidato di sekolah.

“Dapat tema itu sekitar satu minggu lalu. Setelah pengumuman masuk final secara online, kita ada waktu dua hari persiapan untuk penampilan offline-nya. Alhamdulillah penampilannya memuaskan,” ungkap Ustazah Anjar yang berharap para santri cilik tersebut dapat terus mengasah kemampuan mereka di berbagai event mendatang.

Tantangan berbeda dirasakan dalam mempersiapkan peserta pada kategori usia yang lebih muda.

Eriza Devi Maharani, ibunda Aisya Sahila Mahrus, menceritakan proses melatih sang anak yang baru pertama kali tampil di panggung sebesar ini.

Mengatasi perubahan mood anak usia sekolah dasar menjadi tantangan tersendiri selama masa persiapan efektif yang hanya berlangsung lima hari.

“Mood-nya itu kalau nggak pengen banget belajar, ya males-malesan. Semoga makin banyak acara-acara seperti ini karena bisa menjembatani anak-anak yang punya bakat di dunia public speaking,” tutur Eriza.

Keberhasilan ajang Pildacil HSN 2026 ini bukan sekadar melahirkan juara lomba, melainkan menjadi bagian dari upaya mencetak penerus estafet dakwah.

Sebagaimana harapan besar Kemenaj Kediri, ajang ini didedikasikan untuk mencetak penerus estafet dakwah yang kelak mampu menjadi penyambung risalah yang kokoh berpijak pada manhaj Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah.