GOWA, Tandaglobal.news — Sumber bakteri dalam kasus gangguan pencernaan yang dialami 11 siswa di Gowa pada 24 September 2026 disebut berasal dari fasilitas tempat cuci tangan sekolah, bukan dari makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Deputi Bidang Pemantauan dan Pengawasan Badan Gizi Nasional (BGN), Ketut Sumedana, mengatakan temuan tersebut diperoleh setelah pemeriksaan terhadap berbagai sampel terkait insiden tersebut.

“Sumber bakteri tersebut dinyatakan berdasarkan hasil pemeriksaan dari tempat cuci tangan sekolah sebelum makan anak-anak,” ujar Ketut Sumedana.

Sementara itu, hasil pengujian mikrobiologi terhadap sampel makanan MBG dari SPPG Gowa Pattallassang 2 dinyatakan layak konsumsi.

BGN juga menyatakan sampel makanan tersebut tidak mengandung bahan berbahaya maupun beracun.

“Bahwa hasil pengujian mikrobiologi, seluruh sampel makanan yang diuji di laboratorium dinyatakan layak konsumsi dan tidak mengandung bahan-bahan berbahaya atau beracun,” kata Ketut.

Insiden tersebut sebelumnya membuat operasional SPPG Gowa Pattallassang 2 dihentikan sementara.

Dari total 2.660 penerima manfaat, sebanyak 11 orang dilaporkan mengalami gangguan pencernaan.

Setelah hasil pemeriksaan laboratorium keluar, BGN mencabut penghentian sementara operasional SPPG tersebut melalui surat tertanggal 25 September 2026.

“SPPG Gowa Pattallassang 2 hari ini kami nyatakan dibuka kembali dan dapat beroperasi pada hari Senin berikutnya,” ujar Ketut.

Temuan ini menunjukkan bahwa persoalan keamanan pangan tidak hanya berkaitan dengan makanan MBG.

Kondisi sanitasi di lingkungan sekolah, termasuk fasilitas yang digunakan siswa sebelum makan, turut menjadi bagian penting dalam memastikan keamanan makanan yang dikonsumsi.

Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, BGN menyatakan tidak menemukan indikasi bahwa makanan MBG dari SPPG Gowa Pattallassang 2 menjadi sumber gangguan pencernaan dalam insiden tersebut.