JAKARTA, Tandaglobal.news — Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengakui mengeluarkan sekitar Rp200 juta untuk melakukan boosting atau promosi berbayar terhadap konten di platform Meta. Ia menegaskan biaya tersebut menggunakan uang pribadi, bukan anggaran pemerintah.

Pernyataan itu disampaikan Sudaryono dalam sebuah video yang diunggah akun Instagram @dardardar_30.

Dalam video tersebut, Sudaryono merespons pemberitaan mengenai belanja iklan yang dikaitkan dengan dirinya di platform Meta.

“Lho, salahnya apa? Saya boosting pakai uang saya sendiri, bukan pakai anggaran,” kata Sudaryono.

Berdasarkan data Meta Ads Library, belanja iklan yang dikaitkan dengan Sudaryono tercatat sekitar Rp199 juta dalam periode Juni hingga September 2026.

Sejumlah materi iklan tersebut memuat konten mengenai Sudaryono dan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Sudaryono menjelaskan, boosting dilakukan agar konten yang menurutnya positif dapat menjangkau lebih banyak pengguna media sosial.

Ia menyebut dirinya berkepentingan menyebarkan informasi mengenai hal-hal positif terkait MBG di tengah ramainya pemberitaan dan percakapan di media sosial.

“Saya berkepentingan untuk bagaimana mensyiarkan berita-berita yang baik itu di tengah-tengah satu cara yang dibikin-bikin oleh orang-orang itu,” ujarnya.

Dalam pernyataannya, Sudaryono juga menyinggung informasi negatif yang menurutnya dapat diarahkan kepada pihak yang telah bekerja dengan baik.

Ia kemudian menyebut istilah DFK.

DFK merupakan istilah yang digunakan pemerintah dalam konteks konten bermasalah di ruang digital, yang merujuk pada disinformasi, fitnah, dan kebencian.

“Orang yang kerja baik dibilang nggak baik. Orang yang kerjanya sudah bagus, itu kemudian dia DFK namanya,” kata Sudaryono.

Pernyataan Sudaryono mengenai adanya pembingkaian negatif tersebut merupakan pandangannya terhadap informasi yang beredar di media sosial.

Penyebutan DFK dalam pernyataan tersebut juga tidak secara otomatis membuktikan bahwa pemberitaan atau konten tertentu mengenai BGN dan MBG termasuk disinformasi, fitnah, atau kebencian.

Sementara itu, data Meta Ads Library menunjukkan nilai belanja iklan dan informasi pengiklan yang tercatat, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan sumber dana yang digunakan.

Dalam hal sumber dana, Sudaryono menyatakan biaya boosting tersebut berasal dari uang pribadinya dan bukan anggaran pemerintah.