BATANG, Tandaglobal.news — Jumlah warga yang mengalami dugaan keracunan setelah mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, terus bertambah. Hingga Sabtu (26/9/2026) pukul 07.00 WIB, tercatat 589 kasus, dengan 127 pasien masih menjalani perawatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Batang Ida Susilaksmi mengatakan, ratusan pasien tersebut mendapat penanganan di sejumlah fasilitas kesehatan.

Data terbaru menunjukkan pasien yang masih dirawat tersebar di RSUD Batang, RSUD Limpung, serta Puskesmas Bawang, Subah, Gringsing dan Bandar.

Dalam keterangannya, Kepala KPPG Semarang Badan Gizi Nasional (BGN) Hadiriajaya mengatakan kondisi sebagian pasien mulai membaik.

Ia menyebut masih ada 127 orang yang menjalani perawatan di dua rumah sakit dan empat puskesmas.

“Yang masih dirawat tinggal 127. Ada tersebar di dua rumah sakit dan empat Puskesmas,” kata Hadiriajaya.

Di salah satu rumah sakit, kata dia, terdapat 95 pasien.

Sebanyak 40 pasien disebut sudah diperbolehkan kembali, sementara 55 lainnya masih menjalani perawatan.

Sebagian pasien yang masih dirawat juga telah diperiksa dan berpotensi segera dipulangkan.

Kasus ini tidak hanya berdampak kepada siswa penerima MBG.

Sejumlah orang tua dan anggota keluarga juga mengalami keluhan setelah makanan yang dibawa pulang oleh anak mereka ikut dikonsumsi.

Hadiriajaya mengatakan kondisi tersebut menjadi perhatian karena makanan MBG semestinya dikonsumsi oleh penerima manfaat.

Menurut dia, pihaknya akan melakukan edukasi dan berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah agar makanan tersebut dikonsumsi di sekolah.

“Jadi perlukannya juga keterlibatan dari guru, dari aktivis sekolah untuk mendisiplinkan bahwa makanan ini diperuntukkan untuk penerima manfaat dalam hal ini adalah siswa,” ujarnya.

Keterangan tersebut sejalan dengan temuan di lapangan.

Salah satu pasien, Liya Nisa (28), warga Candibugur, Kecamatan Bawang, mengaku mengalami keluhan setelah mengonsumsi makanan MBG yang dibawa pulang anaknya.

Ia mengatakan makanan berupa telur dan buah anggur tersebut dikonsumsi pada Selasa (22/9) sekitar pukul 13.00 WIB.

Liya kemudian menjalani perawatan setelah sebelumnya sempat mendapatkan rawat jalan dari Puskesmas Bawang.

Ia mengatakan kondisinya mulai membaik setelah menjalani perawatan di rumah sakit.

Sementara itu, penanganan terhadap para pasien dilakukan secara bersama oleh pemerintah daerah dan sejumlah unsur terkait.

Hadiriajaya mengapresiasi respons cepat Pemkab Batang, Polres, Kodim, BPBD, serta jajaran lainnya dalam menangani para warga yang terdampak.

“Terima kasih kepada Pemda Kabupaten Batang yang begitu cepat, begitu sigap dibantu dengan jajarannya, baik itu dari Polres, Kodim, BPBD, dan lainnya sehingga penanganannya sudah baik, cepat,” kata Hadiriajaya.

Dengan jumlah kasus yang telah mencapai 589 orang, perhatian kini tidak hanya tertuju pada pemulihan pasien, tetapi juga pada penelusuran penyebab kejadian.

Pemeriksaan dan investigasi terhadap sampel makanan maupun kondisi pasien masih menjadi bagian penting untuk memastikan sumber dugaan keracunan tersebut.

Data Dinkes Batang menunjukkan jumlah kasus meningkat cukup cepat.

Pada Jumat (25/9) pukul 13.00 WIB, jumlah kasus yang tercatat masih 521 orang, sebelum kemudian bertambah menjadi 589 kasus pada pembaruan data Sabtu pagi.