Kediri, TandaGlobalNews – Tahu takwa Bah Kacung masih menjadi salah satu kuliner khas yang banyak dicari masyarakat saat berkunjung ke Kota Kediri. Meski suasana Lebaran telah berlalu dan aktivitas kembali berlangsung seperti biasa, pembeli tetap berdatangan ke gerai yang berada di Jalan Yos Sudarso, Kota Kediri, Jawa Timur, Selasa (22/9/2026).

Aroma kedelai yang khas menjadi salah satu penanda aktivitas produksi di tempat tersebut. Sejak pagi, proses pengolahan tahu terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pembeli yang datang, baik untuk dikonsumsi sendiri maupun dijadikan buah tangan bagi keluarga dan kerabat.

Tahu takwa memiliki ciri khas yang mudah dikenali melalui warna kuning pada permukaannya. Warna tersebut diperoleh dari penggunaan kunyit dalam proses pengolahan. Selain tampilan yang khas, tahu ini memiliki tekstur padat dengan cita rasa gurih yang membuatnya tetap digemari masyarakat dari berbagai daerah.

Keberadaan tahu takwa juga tidak dapat dipisahkan dari perjalanan kuliner Kota Kediri. Tradisi pengolahan tahu yang berkembang sejak awal abad ke-20 kemudian berpadu dengan bahan serta rempah lokal. Perpaduan tersebut melahirkan makanan khas yang hingga kini menjadi salah satu identitas Kota Kediri sebagai Kota Tahu.

Salah satu usaha yang mempertahankan tradisi tersebut adalah tahu takwa Bah Kacung. Usaha yang dirintis sejak 1912 itu hingga kini masih menjaga cara pengolahan secara tradisional. Prosesnya dimulai dari pemilihan dan penggilingan kedelai, kemudian dilanjutkan dengan pengolahan hingga perebusan menggunakan air yang diberi kunyit.

Herman Budiono, generasi ketiga pengelola tahu takwa Bah Kacung, mengatakan minat masyarakat terhadap produk tersebut tetap terjaga meskipun saat ini bukan berada pada musim Lebaran. Pembeli dari luar daerah masih kerap mampir untuk membawa pulang tahu kuning sebagai oleh-oleh.

“Kalau hari biasa, pembeli tetap ada. Mereka datang bukan hanya dari Kediri, tetapi juga dari luar kota yang memang sudah mengenal tahu kuning Bah Kacung dan ingin membawanya pulang sebagai oleh-oleh,” jelasnya.

Menurut Herman, dalam kondisi normal pihaknya mengolah sekitar satu hingga dua kuintal kedelai setiap hari. Jumlah produksi tersebut dapat meningkat beberapa kali lipat ketika memasuki periode dengan tingkat kunjungan dan permintaan yang lebih tinggi.

Bagi sebagian masyarakat, membeli tahu takwa saat berkunjung ke Kediri sudah menjadi kebiasaan. Nurul, salah seorang pembeli, mengatakan dirinya memilih tahu kuning karena makanan tersebut memiliki rasa khas dan cocok diberikan kepada keluarga sebagai buah tangan.

“Saya kalau datang ke Kediri biasanya menyempatkan membeli tahu kuning. Rasanya khas dan cocok untuk oleh-oleh, terutama untuk keluarga di rumah,” ujarnya.

Selain tahu takwa, gerai Bah Kacung juga menyediakan sejumlah makanan khas lainnya. Getuk pisang menjadi salah satu pilihan yang banyak dikenal sebagai kuliner khas Kediri. Tersedia pula berbagai camilan seperti stik tahu dan keripik bekicot yang dapat dipilih masyarakat sebagai oleh-oleh.

Untuk harganya, satu besek berisi 10 potong tahu takwa dijual sekitar Rp50.000. Sementara itu, ukuran yang lebih kecil ditawarkan dengan harga sekitar Rp35.000. Harga tersebut tetap dipertahankan agar produk khas tersebut dapat dijangkau oleh berbagai kalangan pembeli.

Herman berharap keberadaan tahu takwa sebagai warisan kuliner khas Kediri dapat terus bertahan di tengah perkembangan makanan modern. Ia ingin tradisi pembuatan tahu secara turun-temurun tetap dilanjutkan dan semakin dikenal oleh generasi muda.

“Kami berharap tahu kuning ini tetap diminati masyarakat dan terus dikenal generasi berikutnya. Semoga usaha ini bisa bertahan dan makanan khas Kediri tetap menjadi kebanggaan daerah,” harapnya.

Keberadaan tahu takwa Bah Kacung menunjukkan bahwa kuliner tradisional tidak selalu bergantung pada momentum tertentu. Di luar musim Lebaran sekalipun, cita rasa yang telah diwariskan selama lebih dari satu abad tetap mampu menarik pembeli dan menjaga denyut usaha kuliner khas Kota Kediri.

Reporter: Roni Ardiansyah
Editor: Rizky Rusdiyanto