KEDIRI, Tandaglobal.news Kemarau yang masih berlangsung membuat petani ketela di Desa Karangnongko, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, harus lebih memperhatikan kondisi tanaman. Teriknya matahari dan terbatasnya ketersediaan air membuat sejumlah tanaman ketela tampak layu, terutama pada siang hari.

Seorang petani di Karangnongko mengatakan kondisi tersebut cukup terlihat ketika matahari mulai terik.

Daun ketela tampak menunduk dan layu, meski kondisi tersebut dapat kembali membaik ketika suhu mulai turun pada sore atau malam hari.

“Kalau siang memang kelihatan layu karena panas. Biasanya kalau sudah sore atau malam mulai segar lagi. Tapi kalau kemaraunya terlalu panjang, kita tetap khawatir pertumbuhan umbinya terganggu,” ujarnya, Senin (21/9/2026).

Menurutnya, ketela masih menjadi salah satu tanaman yang dipilih petani karena relatif mampu bertahan di lahan dengan kondisi kering.

Selain itu, kebutuhan pasar terhadap ketela juga tetap ada, baik untuk konsumsi maupun bahan baku berbagai olahan makanan.

Namun, kondisi kekeringan yang berlangsung lama tetap dapat memengaruhi hasil panen.

Jika tanaman kekurangan air dalam waktu panjang, pertumbuhan umbi dikhawatirkan tidak maksimal sehingga ukuran ketela menjadi lebih kecil.

Untuk menjaga tanaman, petani berupaya memanfaatkan sumber air yang masih tersedia. Penyiraman dilakukan secara terbatas dengan menyesuaikan kondisi air dan biasanya dilakukan pada pagi atau sore hari agar air tidak cepat menguap akibat panas matahari.

“Air yang ada harus diatur. Kalau menyiram saat siang, air cepat habis karena panas. Jadi sebisa mungkin pagi atau sore. Kalau ada sumber air, ya dimanfaatkan untuk menjaga tanaman,” katanya.

Kondisi kemarau juga membuat biaya perawatan meningkat.

Petani yang menggunakan pompa harus mengeluarkan biaya tambahan untuk bahan bakar, sementara kebutuhan air semakin besar ketika hujan belum turun secara merata.

Di sisi lain, ketela tetap memiliki peran penting bagi petani karena permintaannya masih cukup dibutuhkan pasar.

Hasil panen dapat digunakan sebagai bahan pangan maupun bahan baku industri olahan seperti keripik, tepung tapioka, dan berbagai makanan berbahan dasar ketela.

Petani berharap dukungan terhadap sektor pertanian, terutama terkait ketersediaan air, dapat terus diperkuat.

Bantuan sarana pengairan dan pompa dinilai dapat membantu petani menjaga tanaman ketika menghadapi musim kemarau panjang.

Selain ketersediaan air, petani juga berharap harga jual ketela tetap memberikan keuntungan.

Dengan biaya perawatan yang meningkat akibat kebutuhan pengairan, stabilitas harga menjadi salah satu faktor penting agar usaha tani tetap dapat berjalan.

Hingga Senin (21/9/2026), tanaman ketela di sejumlah lahan Karangnongko masih terus dirawat petani.

Kondisi tanaman akan sangat bergantung pada ketersediaan air dan perkembangan cuaca dalam beberapa waktu ke depan.