KEDIRI, Tandaglobal.news — Warga di kawasan Perkebunan Damarwulan, Dusun Laharpang, Desa Puncu, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri, belum menikmati jaringan listrik dari PLN. Untuk mengatasi keterbatasan penerangan tersebut, pihak perkebunan berinisiatif membangun fasilitas panel surya agar warga dapat menikmati listrik selama 24 jam.

Ketua RT 01 kawasan Perkebunan Damarwulan, Agus Widodo yang akrab disapa Dewo, mengatakan selama ini kebutuhan listrik warga dipenuhi menggunakan mesin diesel yang dioperasikan pada sore hingga malam hari.

Sementara itu, di luar jam operasional, warga mengandalkan aki sebagai sumber daya cadangan.

“Selama ini mesin diesel dinyalakan mulai pukul 17.00 sampai 23.00 WIB. Di luar jam itu, warga menggunakan aki untuk kebutuhan penerangan,” ujar Dewo, Rabu (14/10/2026).

Menurutnya, pembangunan panel surya menjadi langkah mandiri pihak perkebunan untuk memberikan akses penerangan yang lebih memadai bagi masyarakat.

Selama ini, seluruh kebutuhan operasional diesel, mulai dari bahan bakar hingga perbaikan ketika terjadi kerusakan, ditanggung pihak perkebunan.

Warga pun tidak dipungut biaya untuk penggunaan listrik tersebut. Prinsip yang sama diterapkan pada fasilitas panel surya yang sedang dibangun, sehingga masyarakat dapat memanfaatkan penerangan tanpa dibebani biaya.

“Untuk kebutuhan listrik warga, selama ini semuanya ditanggung pihak perkebunan, termasuk bahan bakar diesel dan perbaikannya. Warga tidak dikenai biaya,” jelasnya.

Dewo menjelaskan, pengerjaan fasilitas panel surya telah dimulai sekitar 15 hari sebelum 14 Oktober 2026.

Proyek tersebut ditargetkan selesai dan mulai beroperasi pada pekan berikutnya.

Pemasangan dikerjakan oleh tiga tenaga ahli panel surya yang didatangkan dari luar daerah. Kehadiran fasilitas ini diharapkan menjadi solusi atas keterbatasan waktu penggunaan listrik yang selama ini dialami warga.

Apabila sesuai target, warga nantinya dapat menikmati penerangan selama 24 jam.

Fasilitas tersebut juga diharapkan membantu aktivitas masyarakat, termasuk anak-anak yang membutuhkan penerangan untuk belajar pada malam hari.

“Harapannya, minggu depan sudah selesai dan bisa digunakan. Jadi, warga, termasuk anak-anak, bisa mendapatkan penerangan sepanjang hari,” ungkap Dewo.

Belum masuknya jaringan PLN ke kawasan tersebut berkaitan dengan sejumlah kendala, salah satunya jumlah kepala keluarga (KK) yang dinilai belum memenuhi persyaratan pengajuan jaringan listrik. Selain itu, jarak jaringan kabel utama menuju kawasan tersebut juga cukup jauh.

Dari arah Dusun Sukomoro, jarak jaringan kabel jika mengikuti jalur jalan diperkirakan mencapai sekitar tiga kilometer. Sementara dari arah Kecamatan Puncu, jaraknya lebih dari enam kilometer atau hampir tujuh kilometer.

Kondisi tersebut membuat penyediaan listrik membutuhkan upaya tersendiri. Di tengah keterbatasan itu, pembangunan panel surya menjadi alternatif yang ditempuh pihak perkebunan untuk memenuhi kebutuhan dasar penerangan warga.

Dewo berharap fasilitas panel surya dapat segera beroperasi sesuai jadwal sehingga masyarakat tidak lagi hanya bergantung pada mesin diesel yang penggunaannya terbatas pada malam hari. Ia juga berharap ke depan terdapat solusi yang memungkinkan kawasan Perkebunan Damarwulan memperoleh akses listrik yang lebih memadai.