Agus menyebut aktivitas pertambangan pada beberapa hari berlangsung sejak pagi hingga sekitar pukul 17.00 WIB.
Sebelumnya, kegiatan tersebut juga disebut pernah berlangsung hingga sekitar pukul 20.00 WIB.
Suprayitno turut menyampaikan keresahan warga terhadap kondisi lingkungan di sekitar lokasi pertambangan. Warga berharap keselamatan permukiman, ketersediaan air, serta kenyamanan masyarakat yang tinggal paling dekat dengan area penggalian mendapat perhatian serius.
Agus menegaskan bahwa warga lebih mengutamakan perlindungan lingkungan dan keberlanjutan sumber air daripada kompensasi.
“Saya tidak butuh kompensasi, yang saya butuhkan tambang itu berhenti,” tegasnya.
Ia mengatakan warga yang menolak aktivitas pertambangan menginginkan penutupan permanen, bukan sekadar penghentian sementara. Warga berharap pemerintah dan instansi terkait mengevaluasi dampak pertambangan terhadap sumber air, kestabilan lereng, risiko banjir dan longsor, serta kerusakan akses masyarakat.
“Harapan kami selamanya, diberhentikan selamanya. Jadi sudah tidak ada pertambangan di sini,” katanya.
Warga meminta pemeriksaan menyeluruh terhadap area penggalian yang dinilai semakin luas, dalam, dan curam. Mereka menilai pemeriksaan tersebut penting mengingat Damarwulan merupakan kawasan permukiman yang paling dekat dengan lokasi pertambangan.
Warga berharap keluhan tersebut ditindaklanjuti melalui pemeriksaan lapangan dan langkah nyata untuk menjaga keselamatan masyarakat serta keberlangsungan sumber air di lereng Gunung Kelud.



















Tinggalkan Balasan