BANTUL, Tandaglobal.news — Pabrik Gula Kedaton Pleret merupakan salah satu peninggalan industri gula pada masa kolonial Hindia Belanda di wilayah Yogyakarta. Pabrik ini berada di kawasan Kedaton, Pleret, Kabupaten Bantul, sebuah kawasan yang jauh lebih dahulu dikenal sebagai bekas pusat pemerintahan Mataram Islam pada masa Keraton Plered.

Keberadaan Pabrik Gula Kedaton Pleret menjadi bagian dari perkembangan industri gula di Yogyakarta. Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul mencatat pabrik tersebut sudah ada sebelum 1881. Dalam kajian sejarah Bantul 1678–1942, pabrik ini kemudian tercatat dimiliki oleh S. de Kanter melalui Cultuur Maatschappij Kedaton-Pleret pada 1912. Pada 1925, kepemilikannya berpindah kepada N.V. Cultuur Maatschappij der Vorstenlanden.

Berdiri di Kawasan Bekas Keraton Plered

Pemilihan lokasi Kedaton Pleret memiliki keterkaitan erat dengan sejarah kawasan tersebut. Plered pernah menjadi pusat pemerintahan Mataram Islam sebelum kemudian ditinggalkan setelah perpindahan pusat kerajaan ke Kartasura.

JogjaCagar mencatat bahwa setelah kawasan bekas Keraton Plered tidak lagi menjadi pusat pemerintahan, sebagian material bangunan lama kemudian dimanfaatkan pada masa kolonial. Bata dari bangunan-bangunan bekas ibu kota Mataram Islam tersebut digunakan dalam pembangunan berbagai bangunan di kawasan Pleret, termasuk Pabrik Gula Kedaton Pleret.

Kondisi tersebut membuat keberadaan pabrik gula tidak hanya berkaitan dengan sejarah industri kolonial, tetapi juga beririsan dengan sejarah arkeologis Pleret sebagai bekas pusat Mataram Islam.

Perkembangan Industri Gula

Pada masa kolonial, industri gula berkembang di berbagai wilayah Yogyakarta. Dinas Kebudayaan DIY mencatat sedikitnya 19 pabrik gula pernah berdiri di wilayah Yogyakarta, termasuk Pabrik Gula Kedaton Pleret. Industri tersebut berkembang karena gula menjadi salah satu komoditas penting dalam perdagangan dan perkebunan pada masa Hindia Belanda.

Pabrik Gula Kedaton Pleret juga mengalami perubahan dan perbaikan bangunan. Kajian Sejarah Bantul 1678–1942 menyebut bangunan pabrik pernah dirombak oleh biro teknik E. Rombout. Pada periode berikutnya, pabrik berada di bawah N.V. Cultuur Maatschappij der Vorstenlanden.

Kawasan Pleret juga terhubung dengan jaringan transportasi kolonial. Jalur kereta api yang dibangun Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) melewati kawasan Pleret dan menjadi bagian dari jaringan transportasi yang mendukung aktivitas ekonomi pada masa itu.

Bertahan di Tengah Krisis Ekonomi

Memasuki dekade 1930-an, industri gula menghadapi tekanan akibat krisis ekonomi dunia. Dampaknya juga dirasakan oleh berbagai pabrik gula di Yogyakarta.

Kajian sejarah Bantul mencatat bahwa Pabrik Gula Kedaton Pleret masih melakukan produksi pada masa krisis tersebut, tetapi jumlah pegawainya mengalami pengurangan. Kondisi itu berlangsung sebelum pabrik akhirnya berhenti beroperasi pada 1937.

Penutupan tersebut menjadi bagian dari kemunduran industri gula kolonial di Yogyakarta. Sejumlah pabrik lain juga mengalami nasib serupa, baik karena krisis ekonomi, penurunan produksi maupun perubahan kondisi politik.

Dibumihanguskan pada Masa Perang Kemerdekaan

Setelah tidak lagi beroperasi, bangunan Pabrik Gula Kedaton Pleret tidak bertahan hingga sekarang. Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul mencatat bangunan pabrik dibumihanguskan pada masa Agresi Militer Belanda II.

Tindakan tersebut dilakukan agar bangunan tidak dapat dimanfaatkan sebagai pos militer oleh Belanda. Akibatnya, bangunan utama pabrik kemudian hilang dari kawasan tersebut.

Bekas lokasi pabrik kini dikenal sebagai Lapangan Sultan Agung. Meski bangunan pabrik sudah tidak berdiri, sejumlah jejak fisiknya masih dapat ditelusuri melalui tinggalan arkeologis dan struktur yang tersisa.

Ekskavasi Mengungkap Jejak Pabrik

Upaya mengetahui kembali keberadaan Pabrik Gula Kedaton Pleret dilakukan melalui penelitian arkeologi. Pada Juli 2024, Dinas Kebudayaan DIY melakukan ekskavasi di bekas lokasi pabrik.

Ekskavasi tersebut secara khusus diarahkan untuk menelusuri peninggalan kolonial berupa bekas Pabrik Gula Kedaton Pleret, bukan peninggalan Kerajaan Mataram Islam. Kegiatan itu menjadi bagian dari upaya memahami lapisan sejarah kawasan Pleret yang memiliki peninggalan dari berbagai periode.

Penelitian arkeologi menjadi penting karena kawasan Pleret memiliki sejarah panjang, mulai dari periode Mataram Islam hingga masa kolonial. Jejak pabrik gula merupakan salah satu bagian dari lapisan sejarah tersebut.

Dari Industri Gula Menjadi Jejak Sejarah

Kini, Pabrik Gula Kedaton Pleret tidak lagi menyisakan bangunan besar seperti pada masa kejayaannya. Namun, keberadaannya tetap menjadi bagian penting dari sejarah industri gula di Yogyakarta.

Pabrik tersebut memperlihatkan bagaimana kawasan Pleret mengalami perubahan fungsi dari pusat pemerintahan Mataram Islam, kemudian berkembang menjadi salah satu kawasan industri gula pada masa kolonial.

Keberadaan sisa struktur dan temuan arkeologis di lokasi bekas pabrik juga menunjukkan bahwa sejarah Pleret tidak hanya dapat dilihat melalui peninggalan kerajaan, tetapi juga melalui jejak industri yang berkembang pada masa berikutnya.

Dengan penelitian dan dokumentasi yang terus dilakukan, bekas Pabrik Gula Kedaton Pleret menjadi salah satu titik penting untuk memahami hubungan antara sejarah industri gula, perkembangan transportasi kolonial, serta perubahan kawasan Pleret dari masa ke masa.