Sistem Produksi Tebu
Produksi gula di Pabrik Gula Jenar meliputi sejumlah tahapan, mulai dari penyiapan lahan, penanaman, pemeliharaan, pemanenan hingga pengolahan tebu menjadi gula.
Perkebunan tebu di wilayah Purworejo menggunakan sistem reynoso, yaitu sistem pengaturan tata air untuk memenuhi kebutuhan tanaman sekaligus mengatur muka air tanah.
Sistem tersebut memungkinkan pengairan dilakukan ketika musim kemarau dan pembuangan kelebihan air ketika musim hujan.
Penyiapan lahan dilakukan sejak Maret. Lahan kemudian dibuat parit untuk saluran air dan lubang tanaman atau juring.
Setelah bibit ditanam, tebu membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 12 bulan sebelum siap dipanen dan diproses menjadi gula.
Memiliki Jaringan Lori dan Berbagai Fasilitas
Sebagai industri berskala besar, Pabrik Gula Jenar memiliki kompleks yang dilengkapi berbagai fasilitas. Di dalamnya terdapat bangunan pabrik, jaringan rel lori, lokomotif, stasiun tenaga listrik, bengkel dan depo lokomotif, gudang, serta barak bagi buruh.
Kompleks tersebut juga memiliki klinik, rumah pegawai administrasi, rumah petinggi pabrik, dan tempat tinggal pegawai Eropa. Pada waktu tertentu, kawasan societeit juga digunakan sebagai tempat hiburan.
Jaringan transportasi menjadi bagian penting dalam kegiatan produksi. Pabrik Gula Jenar memiliki jaringan kereta lori sepanjang 184 kilometer, 17 lokomotif, serta 1.216 gerbong pengangkut tebu.
Ketika musim giling tiba, jumlah tenaga kerja yang dikerahkan dapat mencapai lebih dari 1.000 orang. Trem lori digunakan untuk mempercepat pengangkutan tebu dari perkebunan menuju pabrik.
Kecepatan pengiriman menjadi penting karena tebu yang baru dipanen perlu segera digiling dan diproses untuk mempertahankan kadar gula yang baik.
Ribuan Buruh Terlibat
Operasional Pabrik Gula Jenar melibatkan tenaga kerja dalam jumlah besar. Pabrik dikelola seorang administrateur atau manajer yang dibantu staf pegawai.
Struktur tenaga kerja terdiri atas pimpinan, pegawai staf, mandor, serta buruh perkebunan. Pada musim tanam dan panen 1919, jumlah buruh yang tercatat mencapai 9.000 orang.
Sementara pada 1929, jumlah pekerja selama masa tanam dan panen mencapai 15.950 orang, dengan sekitar 380 pekerja tetap yang aktif setiap hari.
Besaran upah berbeda berdasarkan jenis pekerjaan dan periode. Data yang tercantum dalam sumber menunjukkan bahwa upah buruh mengalami perubahan mengikuti kondisi ekonomi dan harga kebutuhan pangan.
Ketika Krisis Malaise berlangsung, upah pekerja ikut mengalami penurunan seiring melemahnya produksi dan kondisi industri gula.
Pabrik Gula Jenar
Dampak terhadap Masyarakat Purworejo
Keberadaan Pabrik Gula Jenar turut mengubah kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat sekitar. Industri tersebut membutuhkan banyak pekerja, terutama ketika memasuki musim panen dan penggilingan.
Kemunculan industri gula juga mendorong terbentuknya kelompok buruh atau kuli dalam struktur sosial masyarakat Bagelen. Sebagian penduduk yang tidak memiliki lahan garapan menggantungkan penghasilan dari pekerjaan di pabrik maupun perkebunan tebu.
Perputaran uang di kawasan pedesaan juga meningkat. Pendapatan masyarakat antara lain berasal dari upah kerja dan pembayaran sewa tanah untuk kepentingan perkebunan.
Sumber yang dikutip dalam dokumen mencatat perputaran uang dari sewa tanah, upah, dan kegiatan terkait pabrik gula di Bagelen mencapai sekitar 3.961.000 gulden per tahun.
Namun, perkembangan industri juga menimbulkan persoalan sosial. Sumber mencatat adanya aksi protes dan perlawanan buruh maupun masyarakat terhadap perusahaan perkebunan.
Salah satu bentuknya adalah pembakaran lahan tebu serta aksi mogok kerja untuk menuntut perbaikan kondisi pekerja.
Berakhir akibat Krisis Malaise
Masa kejayaan Pabrik Gula Jenar tidak berlangsung selamanya. Memasuki akhir 1920-an hingga awal 1930-an, industri gula mengalami tekanan akibat Krisis Malaise yang turut memengaruhi harga komoditas dan permintaan gula.
Kondisi tersebut berdampak terhadap produksi, luas perkebunan, serta tenaga kerja. Aktivitas produksi Pabrik Gula Jenar terus mengalami penurunan hingga akhirnya pada 1932 tidak lagi menghasilkan gula.
Setahun kemudian, pada 1933, pabrik berhenti beroperasi. Setelah pabrik ditutup, bangunan kompleks kemudian dibongkar.
Sebagian besar bangunan disebut dibeli oleh Johannes Cornelis Suzenaar, sementara tanah bekas perumahan pegawai dibeli Van Mook dan digunakan sebagai lahan peternakan sapi.
Perjalanan Pabrik Gula Jenar memperlihatkan perkembangan industri gula di Purworejo pada awal abad ke-20, mulai dari pembangunan, pertumbuhan produksi, penggunaan jaringan lori dan tenaga kerja dalam jumlah besar, hingga akhirnya berhenti beroperasi akibat tekanan ekonomi global pada dekade 1930-an.



















Tinggalkan Balasan