SUKOHARJO, TandaGlobalNews — PT Sri Rejeki Isman Tbk atau Sritex merupakan salah satu nama paling dikenal dalam sejarah industri tekstil dan produk tekstil Indonesia. Perusahaan yang kemudian berpusat di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, tersebut memiliki perjalanan panjang sejak dirintis sebagai usaha perdagangan tekstil di Pasar Klewer, Solo, pada 1966.

Di bawah pendirinya, H.M. Lukminto, usaha yang semula hanya menjual produk tekstil berkembang menjadi perusahaan manufaktur terintegrasi yang menangani berbagai tahapan produksi, mulai dari pemintalan benang hingga pembuatan pakaian jadi.

Namun, perjalanan panjang tersebut berakhir pada fase penting ketika Sritex dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang pada Oktober 2024.

Berawal dari Pasar Klewer

Cikal bakal Sritex bermula pada 1966, ketika H.M. Lukminto mendirikan usaha perdagangan tekstil tradisional bernama “Sri Redjeki” di Pasar Klewer, Solo.

Pada tahap awal, kegiatan usaha masih berfokus pada perdagangan produk tekstil. Lukminto kemudian secara bertahap mempelajari proses produksi dan mengembangkan usaha dari perdagangan menjadi manufaktur.

Perubahan dari pedagang menjadi produsen menjadi salah satu titik penting dalam sejarah perkembangan Sritex.

Memasuki Dunia Manufaktur pada 1968

Dua tahun setelah berdiri, Sritex mulai memasuki industri manufaktur.

Pada 1968, perusahaan membangun pabrik pertamanya di Baturono, Solo, yang memproduksi kain yang diputihkan (bleached) dan dicelup (dyed). Langkah tersebut menjadi awal transformasi Sri Redjeki dari perusahaan perdagangan menjadi produsen tekstil.

Perusahaan kemudian terus memperluas kemampuan produksinya.

Resmi Menjadi PT Sri Rejeki Isman pada 1978

Perkembangan usaha membuat Sri Redjeki memasuki tahap baru.

Pada 16 Oktober 1978, nama “Sri Redjeki” secara resmi berubah menjadi PT Sri Rejeki Isman. Perusahaan juga tercatat sebagai perseroan terbatas pada periode tersebut.

Perubahan status tersebut menandai perkembangan perusahaan dari usaha perdagangan dan manufaktur yang berkembang menjadi badan usaha berbentuk perseroan.

Membangun Pabrik Penenunan pada 1982

Sritex kembali memperluas kegiatan produksinya pada 1982 dengan mendirikan pabrik penenunan (weaving) pertama.

Masuknya perusahaan ke sektor penenunan membuat rantai produksi tekstil semakin lengkap. Sebelumnya perusahaan telah mempunyai kemampuan produksi kain melalui proses finishing, bleaching dan dyeing.

Pengembangan tersebut menjadi fondasi bagi integrasi vertikal yang kemudian menjadi karakter utama Sritex.

Menjadi Perusahaan Tekstil Terintegrasi pada 1992

Tonggak penting berikutnya terjadi pada 1992.

Sritex telah berkembang menjadi perusahaan tekstil-garmen terintegrasi dengan empat kelompok kegiatan produksi, yakni spinning, weaving, dyeing-printing-finishing, dan garment.

Dengan sistem tersebut, perusahaan dapat mengendalikan proses produksi dari bahan baku tekstil hingga menjadi pakaian jadi.

Model integrasi vertikal tersebut kemudian menjadi salah satu keunggulan Sritex dalam menghadapi pasar tekstil dan garmen.

Masuk ke Pasar Seragam Militer

Selain produk tekstil dan pakaian untuk pasar komersial, Sritex kemudian dikenal sebagai produsen seragam militer.

Dalam riwayat perusahaan, 1994 menjadi salah satu tonggak penting ketika Sritex mulai menjadi pemasok seragam militer untuk NATO dan tentara Jerman.

Kemampuan memproduksi pakaian dan tekstil untuk kebutuhan militer turut memperkuat reputasi perusahaan di pasar internasional.

Menghadapi Krisis Ekonomi 1998

Sritex juga melewati krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada akhir 1990-an.

Menurut keterangan perusahaan yang dikutip sejumlah media, Sritex tetap berkembang setelah krisis moneter 1998 dan kemudian mengalami pertumbuhan yang cukup besar pada periode setelahnya.

Kemampuan mempertahankan dan mengembangkan produksi menjadikan Sritex salah satu perusahaan tekstil Indonesia yang berhasil membangun skala usaha besar.

Menjadi Perusahaan Terbuka

Sritex memasuki pasar modal Indonesia pada 2013.

Perusahaan melakukan penawaran saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) dan resmi tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham SRIL. Sejak saat itu nama perusahaan menjadi PT Sri Rejeki Isman Tbk.

Status sebagai perusahaan terbuka membuka akses terhadap sumber pendanaan pasar modal sekaligus meningkatkan tuntutan transparansi dan tata kelola perusahaan.

Memperluas Kompleks Produksi di Sukoharjo

Pusat produksi Sritex kemudian berkembang di Desa Jetis, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah.

Kompleks produksi perusahaan menjadi kawasan industri tekstil terpadu dengan sejumlah lini produksi. Dalam laporan perusahaan, sebagian besar operasi Sritex pernah terkonsentrasi di kawasan seluas puluhan hektare di Sukoharjo. Laporan perusahaan tahun 2021 mencatat sekitar 79 hektare lahan operasi utama di wilayah tersebut.

Perusahaan juga memiliki fasilitas produksi dan entitas usaha lain di luar kompleks utama Sukoharjo.

Empat Lini Produksi

Pada masa ekspansinya, Sritex memiliki empat lini utama, yaitu:

  • Spinning, untuk menghasilkan benang;
  • Weaving, untuk menghasilkan kain mentah;
  • Dyeing, printing dan finishing, untuk menghasilkan kain jadi;
  • Garment, untuk memproduksi pakaian jadi.

Integrasi tersebut memungkinkan Sritex mengelola rantai produksi tekstil dari hulu hingga hilir.

Model bisnis tersebut juga membuat Sritex dapat melayani berbagai jenis kebutuhan pasar, termasuk pakaian jadi, kain, tekstil rumah tangga dan seragam.

Berkembang Menjadi Perusahaan Berorientasi Ekspor

Pada masa kejayaannya, Sritex memiliki pasar internasional yang luas.

Laporan tahunan perusahaan menyebut sejumlah pelanggan ritel internasional, termasuk H&M, Walmart, K-Mart dan Jones Apparel. Perusahaan juga mengembangkan tenaga profesional dari berbagai negara untuk mendukung operasional bisnisnya.

Sritex kemudian dikenal tidak hanya sebagai perusahaan tekstil Indonesia, tetapi juga sebagai salah satu produsen tekstil-garmen besar yang memasok kebutuhan pasar internasional.

Memiliki Anak Perusahaan

Dalam laporan tahunan 2021, Sritex mencatat sejumlah entitas anak yang mendukung kegiatan bisnis grup.

Di antaranya adalah PT Sinar Pantja Djaja, PT Bitratex Industries, PT Primayudha Mandirijaya, serta Golden Legacy Pte Ltd.

Keberadaan perusahaan-perusahaan tersebut memperlihatkan besarnya ekosistem bisnis yang pernah dibangun Sritex.

Mengalami Tekanan Keuangan

Di balik skala usaha yang besar, Sritex kemudian menghadapi tekanan keuangan dan kewajiban utang.

Permasalahan tersebut berujung pada proses hukum terkait kewajiban pembayaran dan pelaksanaan perjanjian perdamaian (homologasi).

Kondisi tersebut akhirnya membawa perusahaan menuju proses kepailitan.

Dinyatakan Pailit pada 21 Oktober 2024

Babak penting dalam sejarah Sritex terjadi pada 21 Oktober 2024.

Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Semarang mengabulkan permohonan yang diajukan PT Indo Bharat Rayon dan menyatakan PT Sri Rejeki Isman Tbk beserta sejumlah anak perusahaannya berada dalam keadaan pailit.

Putusan tersebut tercatat dalam perkara Nomor 2/Pdt.Sus-Homologasi/2024/PN Niaga Smg. Anak perusahaan yang turut dinyatakan pailit antara lain PT Sinar Pantja Djaja, PT Bitratex Industries dan PT Primayudha Mandirijaya.

Keputusan tersebut menjadi titik balik terbesar dalam sejarah perusahaan yang telah dibangun selama hampir enam dekade.

Berakhirnya Era Sritex sebagai Raksasa Tekstil

Kepailitan pada 2024 menutup satu babak perjalanan Sritex sebagai salah satu perusahaan tekstil terbesar Indonesia.

Selama hampir enam dekade, perusahaan berkembang dari sebuah usaha perdagangan kecil di Pasar Klewer menjadi perusahaan tekstil-garmen terintegrasi yang mempunyai fasilitas produksi berskala besar di Sukoharjo dan pasar internasional.

Perjalanan tersebut menjadikan Sritex salah satu contoh paling menonjol mengenai perubahan industri tekstil Indonesia: dari perdagangan tradisional, berkembang menjadi manufaktur terintegrasi, masuk pasar modal, membangun jaringan produksi dan ekspor, hingga akhirnya menghadapi persoalan keuangan yang berujung pada kepailitan.

Jejak Sritex dalam Sejarah Industri Tekstil Indonesia

Sejarah Sritex tidak hanya berkaitan dengan satu perusahaan.

Perjalanan perusahaan tersebut mencerminkan perkembangan industri tekstil Indonesia selama beberapa dekade. Dari produksi kain di Solo pada akhir 1960-an, pembangunan pabrik penenunan pada 1980-an, integrasi produksi pada 1990-an, ekspansi pasar internasional, hingga menjadi perusahaan terbuka pada 2013.

Kompleks industri Sritex di Sukoharjo juga pernah menjadi salah satu pusat kegiatan ekonomi dan ketenagakerjaan penting di kawasan Solo Raya.