KEPUNG, Tandaglobal.news — Siswa-siswi SMPN 2 Kepung menampilkan pertunjukan bertema Cap Go Meh dalam acara Dewata Keling Carnival yang digelar di Desa Keling, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, Sabtu (5/9/2026).

Pertunjukan tersebut mengangkat perpaduan budaya Tionghoa dan Palembang melalui kisah cinta saudagar kaya asal Tionghoa, Tan Bun An, dengan Siti Fatimah dari Palembang.

Pertunjukan memadukan sejumlah unsur seni, mulai dari tari, musik, hingga barongsai. Seluruh penampil merupakan siswa-siswi SMPN 2 Kepung yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler tari dan musik.

Guru SMPN 2 Kepung, Nia Natalia, menjelaskan persiapan pertunjukan diawali dengan menentukan ide dan tema yang akan dibawakan. Setelah tema ditentukan, para siswa melanjutkan persiapan melalui latihan musik dan tari.

“Persiapannya diawali dari menentukan ide atau tema, kemudian latihan musik dan dilanjutkan dengan latihan tari. Waktu persiapannya kurang lebih dua minggu,” ujar Nia Natalia.

Keterbatasan fasilitas musik membuat proses latihan dilakukan secara terpisah. Para siswa yang tergabung dalam kelompok tari berlatih secara mandiri, sedangkan kelompok musik berlatih di waktu dan tempat yang berbeda.

Meski memiliki waktu persiapan yang relatif singkat, para siswa tetap berusaha memaksimalkan penampilan. Selain penari dan pemusik, sejumlah siswa juga terlibat sebagai pemain barongsai sehingga pertunjukan dapat menampilkan perpaduan berbagai unsur kesenian.

Nia mengaku puas dengan hasil penampilan para siswa dalam Dewata Keling Carnival. Menurutnya, para siswa mampu menunjukkan kemampuan terbaik meskipun proses latihan hanya berlangsung sekitar dua minggu.

“Saya sangat puas karena anak-anak bisa tampil maksimal meskipun waktu latihan kami cukup singkat,” kata Nia.

Menurutnya, pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari kemeriahan Dewata Keling Carnival, tetapi juga menjadi kesempatan bagi siswa untuk mengenal keberagaman budaya Indonesia.

Melalui cerita Tan Bun An dan Siti Fatimah, siswa belajar mengenai perpaduan budaya Tionghoa dan Palembang yang dikemas dalam sebuah pertunjukan seni.

Nia berharap kegiatan seperti ini dapat menumbuhkan kecintaan siswa terhadap budaya Indonesia. Ia menilai generasi muda perlu mengenal dan melestarikan budaya Nusantara di tengah banyaknya pengaruh budaya dari luar.

“Harapannya, anak-anak lebih mencintai budaya Indonesia yang sangat kaya dan beragam. Jangan sampai mereka hanya menyukai budaya luar seperti K-pop, tetapi budaya Indonesia sendiri justru kurang dikenal,” pungkasnya.