
KEDIRI, Tandaglobal.news — Grand final Pentas Pendidikan Agama Islam (PAI) jenjang SMP se-Kabupaten Kediri digelar di SMPN 1 Grogol, Selasa (13/10/2026). Kegiatan ini diikuti 910 peserta dari sekolah negeri dan swasta sejak babak penyisihan hingga babak final.
Ketua Panitia Lomba, Muanam, mengungkapkan tingginya antusiasme pelajar dalam mengikuti perlombaan tahun ini.
“Jumlah total anak-anak itu mulai dari babak penyisihan sampai grand final itu ada 910 peserta anak, baik itu negeri maupun swasta [se-Kabupaten Kediri],” ujar Muanam saat diwawancarai di lokasi acara.
Perlombaan tersebut meliputi Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ), kaligrafi, pidato Islami, poster Islami, banjari, hingga poster digital Islami. Seluruh cabang lomba diperuntukkan bagi siswa SMP kelas 7, 8, dan 9.
Proses seleksi diawali dengan sosialisasi melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) dan grup komunikasi guru PAI se-Kabupaten Kediri. Pendaftaran peserta dibuka secara daring pada 28 September hingga 3 Oktober 2026.
Untuk cabang banjari, MTQ, dan pidato Islami, seleksi awal dilakukan secara daring melalui pengumpulan tautan video penampilan peserta. Dewan juri kemudian memilih enam peserta terbaik untuk melaju ke babak grand final secara tatap muka di SMPN 1 Grogol.
Penilaian setiap cabang lomba melibatkan juri yang kompeten di bidangnya, mulai dari praktisi seni, pengasuh sanggar, hingga kalangan pondok pesantren. Khusus kaligrafi mushaf Al-Qur’an, penilaian mencakup ketepatan penulisan, estetika, serta penggunaan minimal tiga jenis khat atau gaya kaligrafi.
Muanam menjelaskan, kegiatan ini merupakan kompetisi berjenjang yang berlanjut hingga tingkat nasional. Para juara pertama dari masing-masing kategori akan mewakili Kabupaten Kediri pada tingkat provinsi yang dijadwalkan berlangsung November mendatang.
“Kegiatan ini berjenjang, mulai dari tingkat SMP. Juara 1 nanti akan kita bawa ke provinsi pada bulan November di Kemenag Provinsi. Setelah itu, hasil seleksi tingkat provinsi akan dibawa ke tingkat nasional,” jelasnya.
Salah satu peserta yang berhasil meraih prestasi ialah Anisa Rosydah, siswi kelas 9 SMPN 1 Kras. Ia meraih Juara 2 dalam Olimpiade Pendidikan Agama Islam (PAI).

Anisa mengaku senang atas pencapaiannya tersebut. Kompetisi ini menjadi pengalaman pertamanya mewakili sekolah dalam perlombaan tingkat kabupaten. Meski sempat merasa tegang, usaha dan persiapan yang dilakukannya berbuah hasil.
“Jujur senang sih kak, kayak semua usahaku yang begadang dll semuanya terbayarkan dan alhamdulillah kak bisa juara…” ungkap Anisa setelah pengumuman pemenang.
Ia juga menceritakan ketegangannya saat mengikuti kompetisi tersebut karena baru pertama kali mewakili sekolah dalam perlombaan.
“Iya, benar-benar deg-degan. Kayak ini juga first time aku buat ikut lomba yang mewakilin sekolah itu benar-benar ini first time. Sebelumnya kan olimpiade itu juga kan kehendak sendiri, cuman ini juga mewakilin sekolah benar-benar kayak deg-degan pastinya,” ungkapnya.
Anisa mempersiapkan diri secara mandiri dengan memanfaatkan buku yang difasilitasi guru di sekolah. Setelah lolos penyisihan, ia menggunakan waktu sekitar satu minggu untuk kembali fokus belajar menghadapi babak final.
“Aku berlatih itu kurang lebih seminggu. Jadi, setelah penyisihan langsung fokus belajar lagi buat final,” jelasnya.
Materi yang paling banyak dipelajari Anisa meliputi ilmu tajwid serta karakteristik perilaku manusia, baik sifat terpuji maupun tercela.
Saat ditanya mengenai bagian paling menantang dalam olimpiade, ia menyebut soal sejarah sebagai materi yang paling sulit baginya.
“Paling menantang itu soal sejarah. Soalnya aku nggak suka sejarah,” ujarnya sambil tersenyum.
Prestasi Anisa tidak lepas dari dukungan pihak sekolah dan keluarga. Meski orang tuanya tidak hadir langsung di lokasi, guru pembimbing turut mendampingi dan memberikan semangat selama perlombaan berlangsung.
Dari kompetisi tersebut, Anisa belajar tentang kedisiplinan dan pentingnya mengatur waktu, terutama saat mempersiapkan diri menghadapi setiap tahapan seleksi.
“Dari kompetisi ini yang paling berharga itu pastinya waktu. Karena kita sebelum final, sebelum penyisihan, kita pasti memerlukan waktu untuk belajar, jadi bener-bener waktu itu berharga,” pungkasnya.
Sementara itu, panitia berencana menggelar rapat evaluasi setelah penutupan acara. Evaluasi tersebut dilakukan untuk meninjau seluruh tahapan penyelenggaraan dan meningkatkan kualitas perlombaan pada tahun-tahun mendatang.



















Tinggalkan Balasan