

KEDIRI, Tandaglobal.news — Pengembangan Museum Etnografika di Kabupaten Kediri memasuki tahap persiapan pekerjaan lanjutan. Penyelesaian Detail Engineering Design (DED) ditargetkan rampung dalam waktu dekat sebelum penataan tahap pertama dimulai melalui perubahan anggaran pada Oktober hingga Desember 2026.
Mustika Prayitno Adi mengatakan, penyusunan DED untuk pengembangan museum saat ini hampir selesai.
Finalisasi ditargetkan dapat dilakukan dalam satu hingga dua minggu ke depan agar pekerjaan lanjutan segera dilaksanakan.
“DED-nya sudah hampir selesai. Insyaallah kita finalisasi dalam satu sampai dua minggu ini. Setelah itu kita lanjut pada pekerjaan lanjutan Museum Etnografika yang ada di sisi utara,” ujar Mustika.
Penataan sisi utara menjadi fokus awal pengembangan museum. Pekerjaan tersebut merupakan tahap pertama dari rencana pengembangan kawasan yang akan dilakukan secara bertahap.
Mustika menjelaskan, pelaksanaan pembangunan akan disesuaikan dengan waktu dan kemampuan anggaran.
Apabila pelaksanaan tahap pertama masih memungkinkan untuk dikembangkan, pekerjaan dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya.
Program tersebut masuk dalam perubahan anggaran yang berlangsung pada Oktober hingga Desember 2026. Tahap awal pengembangan Museum Etnografika diharapkan menjadi dasar bagi pelaksanaan pekerjaan lanjutan pada tahun berikutnya.
Menurut Mustika, pengembangan museum tidak akan berhenti pada satu tahap. Penataan tahap kedua dan tahap berikutnya masih dimungkinkan, termasuk penambahan klaster lain sesuai kebutuhan dan hasil kajian.
“Penataan kembali di tahun depan pasti ada. Kita fokus dulu pada pengembangan Museum Etnografika di sisi utara. Nanti akan dilanjutkan lagi secara bertahap,” katanya.
Selain ruang museum, kawasan tersebut juga dilengkapi amfiteater yang saat ini masih dalam proses penyelesaian pekerjaan. Berdasarkan informasi yang diterima, pekerjaan fisik amfiteater ditargetkan rampung pada November 2026.
Setelah pembangunan selesai, tantangan berikutnya adalah memastikan fasilitas tersebut dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Amfiteater diharapkan tidak sekadar menjadi bangunan pelengkap, tetapi juga menjadi ruang untuk berbagai kegiatan seni dan kebudayaan.
Mustika menyebut, amfiteater dapat dimanfaatkan untuk beragam kegiatan sanggar seni, termasuk pementasan dan uji kompetensi. Pemerintah daerah juga membuka peluang kolaborasi dengan kelompok seni selama kegiatan yang dilaksanakan mendukung pemajuan kebudayaan.
“Selama itu untuk tujuan pemajuan kebudayaan, nanti kita kolaborasikan. Kita punya tempat yang representatif dan sarana prasarana yang mendukung,” jelasnya.
Pengembangan museum dan amfiteater tersebut diharapkan memperkuat fungsi kawasan sebagai ruang edukasi dan kebudayaan sekaligus daya tarik wisata. Pembangunan akan dilanjutkan secara bertahap agar fasilitas yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.



















Tinggalkan Balasan