


KEDIRI, Tandaglobal.news — Aktivitas perdagangan di Pasar Pahing, Kota Kediri, masih menghadapi tantangan akibat persaingan penjualan daring dan menurunnya jumlah pengunjung. Kondisi ini dirasakan para pedagang yang harus mempertahankan usaha di tengah pendapatan tidak menentu, sementara kewajiban membayar biaya penggunaan kios (HGP) dan retribusi harian tetap berjalan, Jumat (9/10/2026).
Rida (57), salah satu pedagang di Pasar Pahing, mengatakan penurunan aktivitas jual beli mulai dirasakan sejak beberapa tahun terakhir. Menurutnya, perubahan kebiasaan masyarakat yang semakin banyak berbelanja secara daring menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi pasar.
“Kalau pasar sepi itu bukan karena perubahan parkir. Penjualan memang sudah turun sejak beberapa tahun terakhir, salah satunya karena sekarang banyak orang memilih belanja secara online,” kata Rida.
Selain menghadapi penurunan jumlah pembeli, pedagang juga menyoroti biaya yang harus dibayarkan untuk menjalankan usaha. Rida menyebut pedagang kios dikenai HGP sebesar Rp200 ribu per tahun, di luar retribusi harian.
Biaya tersebut dirasa cukup membebani ketika pendapatan tidak menentu.
Ia juga menyebut masih terdapat kios yang kosong akibat minimnya pembeli. Padahal, sebagian pedagang telah mengeluarkan modal cukup besar untuk menempati dan menjalankan usaha di kios tersebut.
Keluhan serupa disampaikan Yuli, pedagang yang menyewa kios di Pasar Pahing. Ia menjelaskan, kios berbentuk seperti toko tetap dikenai HGP tahunan dan retribusi harian.
Untuk kios yang ditempatinya, biaya HGP mencapai Rp200 ribu per tahun, sedangkan retribusi harian sebesar Rp8 ribu. Biaya listrik dibayar secara terpisah.
Sementara itu, pedagang yang berjualan secara lesehan membayar retribusi harian sekitar Rp2 ribu. Menurut Yuli, perbedaan biaya tersebut perlu menjadi perhatian, terutama ketika jumlah pembeli sedang menurun.
“Untuk kios, kami membayar HGP Rp200 ribu per tahun dan retribusi harian Rp8 ribu. Harapannya, biaya bisa ditinjau kembali dan jumlah pembeli di pasar semakin meningkat,” ujarnya.
Yuli juga menanggapi rencana penerapan kartu pelanggan serta pemasangan portal atau pintu pembatas akses pasar. Menurutnya, kebijakan tersebut perlu dipertimbangkan secara matang agar tidak membuat masyarakat enggan berkunjung.
Ia menilai masyarakat sudah terbiasa datang ke pasar untuk berjualan maupun memenuhi kebutuhan usaha.
Perubahan suasana pasar juga terlihat dari jam aktivitas perdagangan. Jika sebelumnya pasar ramai sejak sekitar pukul 05.00 hingga 15.00 WIB, kini sejumlah pedagang mulai beraktivitas sekitar pukul 06.00 WIB.
Bahkan, menjelang pukul 12.00 WIB, sebagian pedagang sudah bersiap pulang karena minimnya pembeli.
Terkait parkir, Rida menjelaskan bahwa pengunjung yang datang untuk berbelanja tetap membayar parkir. Sementara itu, pedagang yang membawa kendaraan masuk ke area pasar tidak dikenai biaya parkir harian.
Ia menilai persoalan utama yang perlu diperhatikan adalah upaya meningkatkan kembali jumlah pengunjung dan menghidupkan aktivitas jual beli di pasar.
Para pedagang berharap pemerintah dapat mengevaluasi kebijakan biaya kios dan retribusi dengan mempertimbangkan kondisi usaha di lapangan. Selain itu, mereka berharap pengelolaan pasar mampu menarik lebih banyak pembeli sehingga aktivitas perdagangan kembali ramai dan pendapatan pedagang meningkat.



















Tinggalkan Balasan