JAKARTA, Tandaglobal.news — Kreator konten Teguh Prakoso atau yang akrab disapa Tepe menjadi sorotan warganet setelah tampil bersama komika sekaligus YouTuber Raditya Dika dalam konten makan sushi omakase. Video yang diunggah ke kanal YouTube Raditya Dika pada Sabtu (3/10/2026) itu menuai beragam reaksi setelah sejumlah potongan adegannya ramai diperbincangkan di media sosial.

Kritik terhadap Tepe bermula dari beberapa momen yang dinilai sebagian warganet kurang menunjukkan etika saat menghadiri undangan makan bersama. Persoalan tersebut kemudian berkembang menjadi perdebatan mengenai sikap menghargai tuan rumah, cara berkomunikasi dengan chef, serta pemahaman terhadap konsep omakase.

Kronologi Tepe Menuai Kritik

Mengutip pemberitaan Medcom.id dan kumparan, salah satu hal yang menjadi perhatian adalah keterlambatan Tepe saat menghadiri kegiatan tersebut. Dalam penjelasannya, Tepe menyebut dirinya keliru memahami jadwal pertemuan. Ia mengira acara dimulai pukul 18.00 WIB, sedangkan jadwal yang disebutkan Raditya Dika adalah pukul 17.30 WIB.

Keterlambatan itu menjadi bahan pembicaraan karena acara tersebut merupakan undangan Raditya Dika. Sejumlah warganet menilai ketepatan waktu merupakan bentuk penghargaan terhadap orang yang telah menyediakan waktu dan menyiapkan kegiatan bersama.

Selain masalah waktu, perhatian publik juga tertuju pada interaksi Tepe dengan Raditya Dika selama percakapan berlangsung. Salah satu momen yang disorot terjadi ketika Tepe melihat jam tangan pintarnya saat Raditya Dika sedang berbicara. Raditya kemudian menegur Tepe, yang selanjutnya meminta maaf dan melepas perangkat tersebut.

Momen lain muncul ketika Tepe berinteraksi dengan chef yang menyajikan hidangan. Sejumlah penonton menilai respons Tepe terhadap penjelasan chef terkesan membantah. Potongan adegan tersebut kemudian memicu kritik mengenai etika berkomunikasi dengan orang yang sedang menjalankan profesinya.

Meski demikian, penilaian tersebut merupakan reaksi sebagian penonton terhadap tayangan yang beredar. Konteks keseluruhan percakapan tetap perlu diperhatikan agar satu potongan video tidak menjadi satu-satunya dasar untuk menilai seseorang.

Apa Itu Omakase?

Omakase merupakan konsep bersantap dari Jepang yang memberikan kepercayaan kepada chef untuk menentukan rangkaian hidangan yang disajikan kepada tamu. Dalam pengalaman ini, tamu biasanya menikmati pilihan makanan yang disiapkan berdasarkan pertimbangan chef, termasuk bahan, teknik penyajian, dan urutan hidangan.

Konsep tersebut membuat komunikasi antara chef dan tamu menjadi bagian penting dari pengalaman bersantap. Tamu tetap dapat menyampaikan preferensi atau pantangan makanan, tetapi komunikasi yang jelas dan saling menghormati menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Dalam kasus Tepe, perbedaan pemahaman mengenai interaksi selama omakase menjadi salah satu pemicu kritik. Namun, polemik ini juga memperlihatkan bagaimana kebiasaan atau gaya komunikasi yang dianggap biasa oleh seseorang dapat ditafsirkan berbeda oleh penonton ketika ditampilkan di ruang publik.

Raditya Dika Tegaskan Tidak Ada Masalah dengan Tepe

Di tengah ramainya kritik, Raditya Dika memberikan klarifikasi melalui Instagram Story pada Kamis (8/10/2026). Ia menegaskan bahwa dirinya dan Tepe tidak memiliki masalah pribadi serta telah berteman sejak 2018.

Raditya juga menyampaikan bahwa dirinya tidak merasa kesal terhadap Tepe dalam video yang ramai diperbincangkan tersebut. Pernyataan itu disampaikan setelah ia menerima pesan dari warganet yang menanyakan hubungan keduanya.

Dalam klarifikasinya, Raditya turut menyoroti komentar yang telah melebar hingga menyeret istri dan anak Tepe. Ia menegaskan bahwa hubungan pertemanan mereka tetap baik, sehingga kontroversi konten tersebut tidak semestinya menjadi alasan untuk menyerang anggota keluarga.

Sementara itu, berdasarkan pemberitaan IDN Times pada 8 Oktober 2026, Tepe diketahui mengunggah ulang pernyataan Raditya Dika tanpa memberikan keterangan tambahan dalam unggahan tersebut.

Kritik di Media Sosial dan Batas Etika Berkomentar

Kasus Tepe menunjukkan bagaimana sebuah konten hiburan dapat berkembang menjadi perdebatan luas ketika potongan adegannya menyebar di media sosial. Kritik terhadap perilaku yang terlihat dalam tayangan merupakan bagian dari respons publik, tetapi kritik tersebut perlu dibedakan dari serangan personal.

Penilaian terhadap suatu tindakan sebaiknya berfokus pada perilaku yang dapat diamati, bukan berkembang menjadi penghinaan terhadap kehidupan pribadi seseorang. Terlebih lagi, anggota keluarga yang tidak terlibat langsung dalam pembuatan konten tidak semestinya menjadi sasaran hujatan.

Klarifikasi Raditya Dika juga memberikan konteks penting bahwa persepsi penonton mengenai hubungan dua orang tidak selalu sama dengan keadaan yang sebenarnya mereka alami. Karena itu, polemik ini tidak cukup disimpulkan hanya berdasarkan dugaan bahwa Raditya merasa tersinggung.

Hingga pemberitaan mengenai klarifikasi tersebut terbit, Raditya telah menegaskan bahwa hubungannya dengan Tepe tetap baik. Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bahwa etika dalam berinteraksi di ruang publik perlu dijaga, begitu pula etika dalam memberikan kritik di media sosial.