KENDAL, Tandaglobal.news — Pabrik Gula (PG) Tjepiring di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, memperkuat penyerapan tebu petani pada musim giling 2026. Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga pasokan bahan baku sekaligus mendukung target swasembada gula nasional.

General Manager PG Tjepiring Tri Mintorogojati mengatakan pabrik secara konsisten menerima tebu dari petani setiap tahun, terutama dari sejumlah wilayah di Jawa Tengah.

“Kami konsisten setiap tahun menerima tebu dari petani, dan ini menjadi kontribusi langsung dalam mendukung program swasembada gula nasional,” kata Tri, sebagaimana diberitakan pada Agustus 2026.

PG Tjepiring berada di bawah PT Industri Gula Nusantara (IGN). Penyerapan hasil panen petani tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan produksi, tetapi juga menjaga kesinambungan rantai pasok tebu.

Bagi petani, kepastian pasar menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga keberlanjutan budidaya tebu.

Penyerapan tebu PG Tjepiring berlangsung di tengah upaya pemerintah meningkatkan produksi gula dalam negeri. Pemerintah menargetkan swasembada gula konsumsi pada 2028 dan gula industri pada 2030.

Strategi tersebut mencakup peningkatan produktivitas tanaman, peremajaan tebu, penyediaan benih unggul, revitalisasi pabrik, serta penguatan lahan tebu.

PG Tjepiring juga memiliki sejarah panjang. Pabrik ini didirikan pada 1835 pada masa pemerintahan Hindia Belanda dengan nama Kendalsche Suiker Onderneming.

Arsip dan kajian sejarah mencatat pabrik tersebut mengalami beberapa kali penghentian dan pengaktifan kembali sebelum berkembang menjadi salah satu fasilitas industri gula yang dikenal di Kendal.

Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Kendal mencatat keberadaan arsip PG Cepiring sebagai bagian dari upaya penelusuran memori kolektif bangsa.

Arsip yang tersimpan antara lain peta kawasan pabrik, jalur kereta api, perizinan, hingga dokumentasi foto.

Kini, nilai sejarah PG Tjepiring berjalan berdampingan dengan fungsi ekonominya. Di tengah target peningkatan produksi gula nasional, keberlanjutan pabrik tidak hanya bergantung pada fasilitas produksi, tetapi juga ketersediaan tebu dan hubungan berkelanjutan dengan petani.