KEDIRI, TandaGlobalNews– Angka stunting di wilayah kerja Puskesmas Puncu, Kabupaten Kediri, terus menunjukkan penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut didukung melalui berbagai upaya pencegahan dan penanganan yang melibatkan sejumlah sektor, mulai dari pemerintah kecamatan, pemerintah desa, Dinas KB, hingga sektor pertanian dan KUA.
Kepala Puskesmas Puncu, dokter Sri Wahyuni Indrayanti mengatakan, penanganan stunting tidak dapat dilakukan oleh Puskesmas sendiri. Menurutnya, persoalan tersebut membutuhkan kerja sama lintas sektor agar intervensi terhadap anak dan keluarga dapat dilakukan secara menyeluruh.
“Penanganan stunting ini bukan hanya tanggung jawab Puskesmas. Kami membutuhkan sinergi dengan lintas sektor, mulai dari kecamatan, desa, Dinas KB, pertanian, KUA dan sektor lainnya,” katanya Rabu (30/9/2026).
Ia menjelaskan, Dinas KB atau DP2KBP3A menjadi salah satu stakeholder utama dalam program penanganan stunting. Sementara itu, Puskesmas memberikan dukungan dari sisi medis dan kesehatan, termasuk pemantauan pertumbuhan serta pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak.
Berdasarkan pemantauan yang dilakukan, angka stunting secara bertahap telah mengalami penurunan hingga berada di kisaran 9,1 persen atau di bawah dua digit. Kondisi tersebut menjadi bagian dari proses penanganan yang dilakukan secara berkelanjutan.
Sri menyebut, tujuan utama penanganan bukan sekadar mengejar angka stunting hingga nol dalam waktu singkat. Hal yang lebih penting adalah memastikan anak mendapatkan pendampingan dan tumbuh dalam kondisi sehat hingga melewati usia lima tahun.
“Target kami bukan hanya bagaimana angka stunting menjadi nol secara instan. Yang paling penting anak terus kami kawal sampai lulus usia lima tahun dalam kondisi sehat dan tumbuh dengan baik,” jelasnya.
Sementara itu, Anik, tim penanganan dan pencegahan program stunting Puskesmas Puncu, menjelaskan bahwa terdapat sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko stunting. Faktor tersebut antara lain kondisi ibu saat hamil, kehamilan pada usia berisiko, hingga kurangnya pemeriksaan kehamilan.
Selain faktor kesehatan ibu, kondisi lingkungan juga menjadi perhatian. Sanitasi yang kurang baik, keterbatasan air bersih, serta ketahanan pangan keluarga dapat memengaruhi pemenuhan kebutuhan gizi ibu dan anak.
“Karena itu, kondisi ibu saat hamil, sanitasi, air bersih, dan ketahanan pangan keluarga juga perlu diperhatikan. Pencegahan harus dilakukan sejak awal,” tuturnya.
Karena itu, Puskesmas Puncu bersama pemerintah kecamatan dan sektor terkait terus mendorong masyarakat agar aktif membawa balita ke Posyandu. Pemantauan berat dan pertumbuhan anak dilakukan secara berkala sehingga apabila ditemukan penurunan berat badan, petugas dapat segera melakukan penanganan.
Puskesmas juga mengoptimalkan pemberian makanan tambahan (PMT) berbahan pangan lokal melalui dukungan dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK). PMT diberikan kepada balita selama dua bulan, sedangkan ibu hamil mendapatkan pendampingan dan makanan tambahan sejak awal kehamilan hingga melahirkan.
Selain pemberian makanan tambahan, upaya pencegahan dilakukan melalui Kelas Ibu Hamil dan pelayanan imunisasi rutin. Puskesmas juga memberikan Tablet Tambah Darah (TTD) kepada remaja putri sebagai salah satu langkah pencegahan anemia yang dapat menjadi faktor risiko saat memasuki masa kehamilan.
Menurut Anik, penanganan stunting juga tidak berhenti pada layanan kesehatan. Pemerintah bersama lintas sektor turut mendorong penyediaan fasilitas sanitasi dan jamban sehat, penguatan program Keluarga Berencana (KB), serta pemenuhan kebutuhan pangan bergizi bagi keluarga.
“Program Makan Bergizi Gratis (MBG) huga menjadi salah satu program pendukung yang menyasar kelompok tertentu, termasuk ibu hamil dan menyusui. Diharapkan dapat memperkuat pencegahan sejak sebelum anak lahir hingga masa pertumbuhan,” ungkapnya.
Reporter: Roni Ardiansyah
Editor: Rizky Rusdiyanto



















Tinggalkan Balasan