PROBOLINGGO, Tandaglobal.news — Kabupaten Probolinggo menyimpan sejumlah peninggalan industri perkebunan dari masa kolonial Belanda. Salah satunya Pabrik Gula (PG) Kandang Djati yang pernah menjadi bagian penting dari perkembangan industri gula di wilayah Kraksaan.
Pabrik yang dikenal dengan nama Suikerfabriek Kandang Djatie tersebut berada di Kelurahan Kandang Jati Kulon, Kecamatan Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Meski telah lama berhenti beroperasi, bekas bangunannya masih menyimpan cerita mengenai kejayaan industri gula pada masa lampau.
Mengutip pemberitaan Jawa Pos Radar Bromo pada 25 Desember 2021, PG Kandang Djati merupakan salah satu pabrik gula peninggalan Hindia Belanda yang dahulu terhubung dengan jalur transportasi kereta api untuk mendukung pengangkutan hasil perkebunan.
Keberadaan pabrik tersebut menjadi bagian dari sejarah panjang Probolinggo sebagai salah satu kawasan industri gula di Jawa Timur.
Berdiri Sejak Abad ke-19
Sejarah PG Kandang Djati diperkirakan bermula pada 1839. Berdasarkan dokumentasi penelusuran sejarah yang dipublikasikan kanal Pecinta Sejarah pada Juni 2025, pabrik tersebut didirikan oleh L. Sprengler dan memiliki periode pendirian yang sama dengan sejumlah pabrik gula lain di Jawa Timur.
PG Kandang Djati berkembang ketika industri perkebunan tebu mengalami pertumbuhan pesat pada masa kolonial. Saat itu, gula menjadi salah satu komoditas ekspor penting yang diproduksi untuk memenuhi kebutuhan pasar Eropa.
Perkembangan industri tersebut turut mendorong pembangunan berbagai fasilitas pengolahan tebu di sejumlah wilayah, termasuk Kabupaten Probolinggo.
Dalam penelitian berjudul Perkembangan dan Dampak Industrialisasi di Gemeente Probolinggo 1918–1942 yang diterbitkan dalam jurnal Lembaran Sejarah Universitas Gadjah Mada, Kandang Djati tercatat sebagai salah satu dari 11 pabrik gula yang beroperasi di wilayah Probolinggo pada periode tersebut.
Pabrik-pabrik itu tersebar di sejumlah kawasan, seperti Kraksaan, Paiton, Pajarakan, dan Gending, yang menjadi bagian dari perkembangan industri perkebunan di bawah pemerintahan kolonial Belanda.
Terhubung dengan Jalur Kereta Api untuk Distribusi Gula
Salah satu hal menarik dalam sejarah PG Kandang Djati adalah keterkaitannya dengan jaringan transportasi kereta api dan trem di Probolinggo.
Pabrik ini terhubung dengan Stasiun Kraksaan yang berada di Kelurahan Sidomukti. Stasiun tersebut diresmikan pada 1 Mei 1897 dan dibangun oleh perusahaan trem swasta Probolinggo Stoomtram Maatschappij (PbSM) yang berkantor pusat di Den Haag, Belanda.
Mengutip Radar Bromo, jalur trem tersebut dibangun secara bertahap untuk mengangkut hasil pertanian dan perkebunan dari berbagai wilayah Kabupaten Probolinggo, termasuk gula yang dihasilkan PG Kandang Djati.
Hasil produksi dari sejumlah pabrik gula di kawasan tersebut kemudian didistribusikan untuk memenuhi kebutuhan perdagangan, termasuk pasar Eropa.
Keberadaan jalur transportasi itu menunjukkan bahwa industri gula pada masa kolonial telah didukung sistem distribusi yang terintegrasi, mulai dari perkebunan, pabrik pengolahan, hingga jaringan pengangkutan.
Pernah Beralih Fungsi Menjadi Penggilingan Padi
Setelah tidak lagi beroperasi sebagai pabrik gula, bangunan PG Kandang Djati mengalami beberapa kali perubahan fungsi.
Dalam laporan Radar Bromo, salah satu warga setempat menceritakan bahwa sekitar 1972, bangunan pabrik masih memiliki bentuk asli dengan ciri khas kompleks industri gula peninggalan kolonial. Saat itu, sebuah cerobong masih berdiri di kawasan pabrik, meskipun kini sudah tidak ditemukan lagi.
Bekas bangunan utama kemudian pernah digunakan sebagai tempat penggilingan padi. Warga sekitar juga memanfaatkan area di bagian selatan gedung untuk menjemur gabah.
Seiring berjalannya waktu, bangunan tersebut kembali mengalami perubahan pemanfaatan. Sebagian area pernah disewakan untuk kegiatan pernikahan, sedangkan bangunan utama kemudian digunakan sebagai gudang tembakau.
Perubahan fungsi tersebut menjadi gambaran bagaimana bangunan peninggalan industri kolonial beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat setelah aktivitas produksi gula berhenti.
Sisa Bangunan Menjadi Saksi Sejarah Industri Gula
Meski telah lama berhenti beroperasi, kawasan bekas PG Kandang Djati masih menyimpan sejumlah jejak sejarah. Selain bangunan utama, beberapa bagian kompleks masih memperlihatkan sisa-sisa fasilitas yang berkaitan dengan aktivitas industri pada masa lalu.
Rel trem yang masih terpasang di sekitar area pabrik menjadi salah satu bukti keterhubungan kawasan tersebut dengan sistem transportasi perkebunan.
Bagi masyarakat Kraksaan, keberadaan bekas PG Kandang Djati bukan sekadar bangunan tua, melainkan bagian dari perjalanan sejarah daerah yang pernah berkembang melalui industri perkebunan.
Pabrik tersebut merekam perubahan besar dalam kehidupan ekonomi masyarakat, mulai dari masa kejayaan industri gula, perkembangan transportasi, hingga peralihan fungsi bangunan setelah aktivitas produksi berakhir.
Kini, kisah PG Kandang Djati menjadi salah satu warisan sejarah Probolinggo yang patut dikenali dan didokumentasikan. Keberadaannya mengingatkan bahwa perkembangan suatu wilayah tidak terlepas dari perjalanan panjang industri, perdagangan, dan kehidupan masyarakat pada masa sebelumnya.
Catatan: Tahun pendirian 1839 merujuk pada dokumentasi penelusuran sejarah yang dipublikasikan kanal Pecinta Sejarah. Informasi mengenai tahun pasti penutupan pabrik belum ditemukan dalam sumber yang ditelusuri.



















Tinggalkan Balasan