JAKARTA, Tandaglobal.news — Perang Rusia-Ukraina terus memperlihatkan perubahan dalam penggunaan teknologi militer. Salah satu yang semakin menonjol adalah pemanfaatan drone untuk pengintaian maupun operasi serangan.

Mengutip CNBC Indonesia, data yang diolah dari Stockholm International Peace Research Institute (SIPRI) menunjukkan Ukraina dan Rusia menjadi dua negara penerima drone militer asing terbesar pada periode 2022-2025.

Dari 16.822 unit drone militer yang tercatat berpindah antarnegara, lebih dari 91 persen di antaranya dikirim ke kedua negara tersebut.

Ukraina tercatat menerima sekitar 8.664 drone militer dari pemasok luar negeri. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 51,5 persen dari keseluruhan pengiriman drone militer yang masuk dalam catatan perdagangan internasional selama periode tersebut.

Sementara itu, Rusia menerima sekitar 6.720 unit atau 39,9 persen dari total pengiriman yang tercatat.

Angka tersebut memperlihatkan besarnya kebutuhan kedua negara terhadap sistem tanpa awak di tengah berlangsungnya perang.

Data SIPRI tersebut memiliki batasan. Lembaga tersebut hanya mencatat perpindahan senjata utama antarnegara, termasuk drone dengan berat tertentu, serta produksi yang dilakukan menggunakan lisensi asing.

Drone yang sepenuhnya dibuat dan digunakan di dalam negeri tidak termasuk dalam perhitungan tersebut.

Kondisi itu membuat angka perdagangan internasional belum menggambarkan keseluruhan jumlah drone yang digunakan dalam perang Rusia-Ukraina.

Drone berukuran kecil, termasuk jenis FPV yang digunakan secara luas di medan perang, sebagian besar tidak tercakup dalam basis data tersebut.

Rusia sendiri diketahui pada awalnya memperoleh drone serang dari Iran. Namun, negara tersebut kemudian mengembangkan kemampuan produksi domestik dan membuat varian yang dikenal sebagai Geran-2.

Data yang dikutip dalam laporan tersebut juga menyebut kemampuan produksi drone Rusia terus berkembang.


Di sisi lain, Ukraina juga memperluas industri drone dalam negeri. Pengalaman selama perang mendorong berkembangnya berbagai perusahaan yang memproduksi sistem tanpa awak untuk kebutuhan pertahanan.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa perang modern semakin banyak memanfaatkan teknologi tanpa awak.

Namun, data perdagangan internasional tetap perlu dibaca dengan mempertimbangkan keterbatasan pencatatan.

Sebagian besar produksi dan penggunaan drone tidak selalu melewati transaksi antarnegara.