KEDIRI, Tandaglobal.news Harga gabah di tingkat petani masih berada pada level tinggi, sementara stok gabah di sejumlah penggilingan mulai menipis memasuki penghujung musim panen. Kondisi tersebut turut dirasakan CV Putra Ramayana di Desa Sumberbendo, Kabupaten Kediri.

Pemilik CV Putra Ramayana, Bambang Setiaji, mengatakan harga gabah dalam dua bulan terakhir terus mengalami kenaikan. Dari harga normal yang sebelumnya berada di kisaran Rp6.500 per kilogram, harga gabah sempat mencapai Rp8.500 per kilogram.

“Dua bulan ini harga gabah terus naik. Dari sekitar Rp6.500, sempat sampai Rp8.500 per kilogram. Tapi satu minggu terakhir agak turun, sekarang sekitar Rp8.000 sampai Rp8.100,” ujar Bambang, Rabu (23/9/2026).

Menurutnya, penurunan harga dalam sepekan terakhir salah satunya terjadi setelah adanya inspeksi di lapangan. Meski demikian, harga gabah masih tergolong tinggi dibandingkan kondisi sebelumnya.

Di sisi lain, stok gabah di tingkat penggilingan juga mulai menipis karena masa panen telah memasuki penghujung. Bambang menyebut stok yang tersedia saat ini jauh lebih sedikit dibandingkan kondisi normal.

“Biasanya stok bisa sampai dua bulan. Sekarang yang ada sekitar 100 ton, itu paling hanya cukup untuk lima hari produksi,” jelasnya.

CV Putra Ramayana saat ini memiliki kapasitas produksi sekitar 10 ton beras per hari. Gabah yang tersedia segera diproses dan hasil produksinya langsung didistribusikan ke pasar.

Meski stok bahan baku menipis, Bambang menegaskan kondisi tersebut belum sampai menyebabkan kekosongan beras di pasaran. Penggilingan tetap melakukan produksi untuk menjaga pasokan sekaligus memenuhi kebutuhan pelanggan.

CV Putra Ramayana sendiri fokus memproduksi beras kelas premium. Namun, tingginya harga gabah sebagai bahan baku menjadi tantangan tersendiri karena harga jual beras dibatasi oleh ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET).

Menurut Bambang, kondisi tersebut membuat margin keuntungan penggilingan semakin tipis. Bahkan, dalam kondisi tertentu, biaya bahan baku dan produksi tidak sebanding dengan harga jual yang dapat diterapkan.

“Gabahnya mahal, sementara harga beras premium ada batas HET. Jadi margin kami sangat tipis, bahkan sempat rugi. Tapi kami tetap produksi untuk menjaga brand dan pelanggan,” katanya.

Untuk menjaga keberlangsungan usaha, pihak penggilingan tetap memproduksi dan memasok beras kepada pelanggan, meski kuantitasnya disesuaikan dengan ketersediaan bahan baku.

Bambang berharap pemerintah bersama Bulog dapat menambah pasokan beras medium maupun premium ke pasar.

Menurutnya, tambahan pasokan diperlukan untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan beras dan harga gabah.

“Harapannya pemerintah atau Bulog bisa mengeluarkan stok beras, baik medium maupun premium, ke pasar. Kalau pasokan di pasar bertambah, mudah-mudahan harga bisa kembali stabil,” ungkapnya.

Dengan pasokan beras yang lebih banyak, diharapkan harga di pasar dapat lebih terkendali.

Kondisi tersebut juga dinilai dapat membantu menekan harga bahan baku sehingga penggilingan bisa kembali beroperasi dengan kondisi usaha yang lebih normal.

Sementara itu, memasuki akhir musim panen, pihak penggilingan masih terus memantau ketersediaan gabah.

Produksi tetap dilakukan sesuai stok yang tersedia agar kebutuhan pelanggan dan pasokan beras di pasar tetap berjalan.