JAKARTA, TandaGlobalNews — Masyarakat di wilayah yang terdampak sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi gangguan kesehatan. Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau warga mengurangi paparan abu dan mengikuti informasi resmi pemerintah.

Erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlangsung sejak Jumat, 4 September 2026 berdampak pada sejumlah wilayah, termasuk Lampung, Banten, DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Kemenkes mencatat wilayah terdampak abu vulkanik mencakup sekitar 23,36 juta jiwa.

Paparan abu vulkanik dapat mengganggu kesehatan, terutama pada saluran pernapasan. Partikel halus seperti PM2,5 dapat masuk jauh ke dalam paru-paru dan memicu peradangan. Abu juga berpotensi menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.

Karena itu, masyarakat dianjurkan mengambil sejumlah langkah perlindungan, terutama ketika abu vulkanik mulai teramati di lingkungan sekitar.

Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin meminta masyarakat di wilayah yang terdampak untuk membatasi aktivitas di luar rumah apabila tidak ada keperluan mendesak.

Saat berada di dalam rumah, masyarakat dianjurkan menutup pintu dan jendela agar paparan abu dari luar dapat diminimalkan.

Bagi warga yang harus keluar rumah, Kemenkes menyarankan penggunaan masker yang memiliki perlindungan terhadap partikel halus. Pilihan yang dianjurkan antara lain masker N95, KN95, KF94, FFP2, atau jenis yang setara. Masker medis dapat digunakan sebagai perlindungan sementara apabila masker tersebut tidak tersedia.

Selain masker, masyarakat juga disarankan mengenakan pelindung mata atau goggles dan pakaian yang menutupi tubuh untuk mengurangi kontak langsung dengan abu vulkanik.

Jangan Mengucek Mata

Abu vulkanik yang masuk ke mata dapat menyebabkan iritasi. Kemenkes mengingatkan masyarakat untuk tidak mengucek mata ketika terkena abu.

Mata dapat dibersihkan menggunakan air. Jika keluhan berlanjut atau semakin mengganggu, masyarakat dianjurkan mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan.

Setelah kembali dari luar rumah, warga juga dianjurkan membersihkan tubuh dan mengganti pakaian untuk mengurangi sisa abu yang menempel.

Kelompok Rentan Perlu Lebih Waspada

Kemenkes memberikan perhatian khusus kepada kelompok yang lebih rentan terhadap dampak abu vulkanik. Kelompok tersebut antara lain anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, penderita asma, penderita penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), serta orang dengan penyakit pernapasan dan kardiovaskular kronis.

Masyarakat juga diminta memperhatikan kondisi kesehatan setelah terpapar abu. Keluhan seperti batuk, sesak napas, iritasi mata, atau gangguan kesehatan lainnya perlu mendapat perhatian dan sebaiknya segera diperiksakan ke fasilitas kesehatan.

Kemenkes Siagakan Fasilitas Kesehatan

Selain memberikan imbauan kepada masyarakat, Kemenkes meningkatkan kesiapsiagaan layanan kesehatan di wilayah terdampak.

Sebanyak 413 rumah sakit dan 830 puskesmas di 20 kabupaten/kota disiagakan untuk menghadapi kemungkinan gangguan kesehatan akibat erupsi. Kemenkes juga menyiapkan pos pelayanan kesehatan, rumah sakit rujukan, tenaga kesehatan, ambulans, serta layanan Public Safety Center (PSC) 119.

Kemenkes juga telah mendistribusikan berbagai perlengkapan kesehatan, termasuk lebih dari 100.000 masker N95 dan masker medis, kacamata pelindung, obat-obatan, serta alat kesehatan ke sejumlah wilayah yang terdampak paling parah.

Masyarakat diminta tidak panik dan mengikuti perkembangan situasi melalui informasi resmi pemerintah, termasuk dari PVMBG, BMKG, BNPB, dan BPBD.

Dengan mengurangi paparan abu, menggunakan perlindungan yang sesuai ketika harus keluar rumah, serta segera mencari pertolongan jika mengalami keluhan kesehatan, risiko gangguan akibat abu vulkanik dapat diminimalkan.